Kemarin, saya baca Tribun Jabar dan kebetulan teman saya juga membaca berita tsb. Berita ini - kebetulan saya baca di Tribun Jabar, bisa jadi koran lain juga memuat berita ini. Ada dua berita yang saya baca & menarik untuk dikomentari.
Pertama, tentang pendapat Jusuf Kalla (JK) & Juwono Sudarsono (JS) terkait kecelakaan pesawat TNI AU Cassa di Bogor. JK berpendapat karena faktor usia, JS membantah bukan faktor usia. Mari kita lihat latar belakang pendidikan masing-masing yang mencerminkan keluarnya pendapat tsb. JK berlatarbelakang Ekonomi, mantan Menko Perekonomian, pendapatnya didasarkan atas penyusutan nilai barang. Suatu produk kalau telah lama digunakan maka akan menyusut nilai ekonomisnya. Dengan mengesampingkan dirawat tidaknya pesawat tsb. JS berpendapat bahwa perawatan rutin telah menjadikan pesawat layak terbang. JS berpendapat demikian karena beliau yang mengelola asset Dephan. Jadi mana yang benar ? Sebelum memutuskan marilah dengan bijaksana kita kaji dulu dalam kapasitas apa & dengan latar belakang yang bagaimana pendapat tsb dimunculkan. Bisa jadi tokoh olah raga berpendapat karena kurang pemanasan alias warming-up, ujug-ujug langsung terbang rada jauh. Bisa jadi tokoh IT berpendapat karena ada serangan virus atau hacker. Pemburu teroris bisa jadi berpendapat karena sabotase. Tapi kayaknya yang paling menarik adalah menunggu pendapatnya Kepala BIN, yang sampai saat ini belum saya dengar muncul di koran. Atau harus bertanya kepada Ki Joko Bodo atau Ki Gendheng Pamungkas ?? Link terkait : http://www.detiknews.com, http://www.tribun-timur.com, http://www.google.co.id
Kedua, tentang perselisihan antara tukang ojek dengan Bus Damri di seputaran Unpad, Jatinangor. Apa pasalnya ? Ojek yang selama ini membonceng para mahasiswa (termasuk juga mahasiswi juga) dari bawah (tepi jalan raya) ke atas (kampus) keberatan dengan beroperasinya bis Damri sampai ke atas alias depan kelas. Akibatnya tukang ojek gak bisa lagi membonceng mahasiswa (juga mahasiswi), sehingga pendapatan menurun. Apa solusi terbaik. Pertama, mahasiswa jangan naik bis Damri atau jangan pula naik ojek. Ini demi keadilan, juga dalam rangka cooling-down. Hendaknya mahasiswa menghindari konflik horizontal yang terjadi antara Unpad-Damri vs Tukang Ojek. Sangat bijaksana kalau mahasiswa menjembantani dialog ini. Kalau mahasiwa enggak naik Damri atau juga enggak naik ojek, mereka pasti damai dengan sendirinya. Pilihannya, adalah jalan kaki, sambil olah raga. Hitung-hitung mata kuliah Olah Raga 6 sks, perhari 50 menit (1 sks=50 menit). Berangkat 1/2 sks & pulang 1/2 sks. Cukup itu. Enggak mau jalan kaki, silahkan pakai roller-blade atau sepatu roda. Kalau mampu & mau silahkan ber bike to campus, alias bersepeda. Ini lebih cool & keren, dengan pertimbangan jarak enggak terlalu jauh & barang bawaan tidak terlalu berat. Atau kalau bisa, pinjam roda 3 bermotor, yang biasa dipakai nganterin tabung gas atau air mineral galon, ini kayaknya sambil ajak temen sejurusan kayaknya ke angkut juga. Tapi yang pasti untuk berbagai kendaraan beroda, hendaknya hindari penggunaan kursi roda, karena kurang keren & tidak layak. Yang penting, mahasiswa-nya, tukang ojek-nya, Damri-nya & Unpad-nya, harus berdialog demi pencarian solusi terbaik. Link terkait : http://www.lintasberita.com, http://www.lodaya.web.id, http://www.google.co.id