Senin Pagi
Sudah beberapa tahun saya membiasakan memulai aktifitas mengajar di hari Senin Pagi, kalau gak 08.00 atau 08.50 mulainya. Tapi karena pertimbangan jadwal yang harus mendahulukan teman-teman dosen yang lain, maka terpaksa Senin Pagi tidak kuiisi dengan jadwal mengajar. Menurut banyak kalangan, Senin Pagi adalah waktu yang menjengkelkan dikarenakan istirahat Minggu yang nampaknya belum ikhlas untuk diakhiri. Sudah harus bergiat lagi di Senin Pagi. I hate Monday. Bagi yang hari Minggu tetap kerja tidak ada masalah dengan Senin Pagi, karena dianggapnya dua hari itu, Minggu & Senin, adalah hari kerja yang berurutan, alias tidak ada jedah hari libur. Bagi saya Senin sampai dengan Sabtu, adalah sama saja. Yang paling beda adalah hari Minggu, dikarenakan sampai saat ini Hari Minggu adalah hari istirahat. Lan lagi kalau nanti ada perubahan jadwal kerja. Karena bisa jadi - temen sudah ada - dia liburnya Senin & Selasa, Minggu masuk kerja. Ini adalah resiko pelayanan akademik yang memposisikan sebagai pelayanan terbaik bagi konsumen atau masyarakat. Susahnya bila masyarakat belum menerima anomali hari kerja & jam kerja ini. Ada juga yang belum menerima kalau jam kerja saya dari jam 08.00 sampa jam 21.00, dengan segala resikonya. Ada yang bilang kasihan, hebat dan ada yang tidak percaya. Disisi lain, harus banyak penyesuaian bila harus bergaul dalam komunitas tertentu. Jadinya bergaul di komunitas, harus melihat waktu luang. Karena kita bukan orang yang kaya, yang duit datang sendiri. Kita harus berjuang, meski dianggap ‘tidak normal jam kerjanya’. Inilah susahnya jadi ‘orang kecil’, supaya jadi ‘orang besar’ harus berjuang dengan besar hati, fisik yang tahan banting & kesabaran yang ikhlas. Berjuang itu perlu, dan yang pasti Perjuangan harus disertai dengan Doa, begitu kata Bang Haji Rhoma Irama. Berjuang, berjuang, berjuang sekuat tenaga,




