Jalan-jalan Lebaran
Ada dua aktifitas kunjungan selama Lebaran ini. Dikunjungi Saudara atau mengunjungi Saudara. Keduanya sudah saya lakukan. Cuman yang menjadi masalah adalah bagaimana mengefisienkan waktu berkunjung. Optimalisasi dicapai saat frekuensi berkunjung mencapai tingkat keberhasilan pertemuan yang paling tinggi. Kondisi terjelek adalah Saya mengunjungi Si X, pada saat yang sama, Si X menuju ke rumah Saya. Artinya pertemuan gagal total. Masih lebih baik bila ada interval waktu yang berbeda, dan salah satu bisa mengalah untuk menunggu. Itupun harus dilakukan dengan bijaksana. Karena berkunjung biasanya tidak hanya satu tujuan, bisa jadi satu arah bisa 3 atau 4 tujuan. Sehingga mengikuti keinginan untuk berputar arah mengandung resiko tujuan lainnya tidak tercapai. Ini membutuhkan suatu kebijakan hati dan kesabaran. Memutuskan suatu arah yang akan dituju - yang bertentangan dengan rencana semula - bisa membuat rencana seluruhnya berantakan. Apa sarannya ? Kalau di keluarga besar Makmun Martadinata, silaturahmi Lebaran 2008 di pusatkan di Cikutra, Sabtu, 4 Oktober 2008. Rencana ini sudah di putuskan 3 bulan yang lalu dan disosialisasikan dengan baik. Ini adalah rencana utama, sehingga kunjungan berikutnya adalah bila saat Sabtu itu belum sempat ketemu, maka kunjungan per rumah harus dilakukan. Kayaknya kali ini saya banyak mendapatkan kunjungan daripada mengunjungi. Yang pasti menengok ponakan yang sakit, itu kebanyakan alasan kunjungan ke rumah saya. Berarti masih ada hikmah dari musibah ini. Kalau ponakan saya, ya full menerima kunjungan karena kunjungan keluar hanya ke RSHS (Halmahera Siaga) saja. Kira-kira perbandingannya adalah 30% mengunjungi & 70% dikunjungi. Bukti lain dari tingginya 70% tadi adalah banyaknya makanan serta oleh-oleh yang masuk ke meja makan kami. Karena menengok orang sakit mesti bawa makanan, karena gak ada yang sakit saja makanan juga sering dibawa. Lalu, keponakan dan anak-anak yang masih kecil, juga marema dapat THR kecil-kecil-an.
Selain mengunjungi ke rumah, saya & anak-anak serta keponakan, mengunjungi mall-mall yang ada disekitar rumah. Gak perlu jauh-jauh, gak perlu jajan banyak-2 & yang penting ada hotspot area. Maka nongkrong di BeMall di atas adalah pilihan tepat. Kebetulan anak-2 & ponakan juga seneng main internet. Makan harus BM, kenapa ? Ini adalah cara memberi kebebasan dan belajar mengambil keputusan untuk membelanjakan sejumlah uang. Kalau di TK pernah diajarkan belanja sendiri di supermarket, si anak dibekeli 10,000,- lalu belanja sesukanya, guru tinggal mengamati apa yang dibeli dan cukupkah uangnya. Dari mana uang didapat ? Ya, dari THR-THR-an tadi. Uang dibelanjakan makan siang, enak-gak-enak, mahal-gak-mahal ditanggung sendiri. Setahun sekali anak-anak dilatih membuat DSS sendiri. Kalau sudah SMP, kayaknya sudah harus diajarkan mengelola anggaran perbulan. Cukup-gak-cukup ya segitu. Ini adalah awal untuk ber-DSS mandiri. Ini adalah pelajaran pertama mengelola keuangan sendiri, minimal setahun sekali.




