B2W Ramadhan
Setelah banyak menimbang dan - kayaknya - terlalu banyak pertimbangan yang ditimbang-timbang, dengan memikirkan hal terburuk akibat dari berB2W Ramadhan, akhirnya baru Jumat ini aku ber-B2W lagi. Sejak 1 Ramadhan kemarin, berarti sekitar 18 hari-an Astroz dikandangkan. Dampak dikandangkan terlalu lama adalah ban yang perlahan-lahan mengempis. Ini juga alasan mengapa aku hari ini harus berB2W, sekalian nambah angin. Setelah nyampai di kampus, memang ada bedanya antara B2W Reguler dengan B2W Ramadhan. Karena begitu sampai di kampus, aku harus duduk dulu sekitar 5 menitan untuk menormalkan keseimbangan badan. Keseimbangan antara kebutuhan air dan pengendalian rasa haus, harus diatur sedemikian rupa agar kehausan bisa dikendalikan. Ternyata lebih berat jalan kaki daripada bersepeda. Juga, lebih berat saat PAM mati kemarin, yaitu mindahin air dari tetangga ke rumah. Maka tak ada alasan untuk tidak berB2W Ramadhan. Karena sudah saatnya puasa ini harus ditransformasikan dari puasa fisik menjadi puasa rohani alias non-fisik. Puasa fisik masih memikirkan nanti makan sahur apa, nanti buka makan apa, itu masih kategori puasa fisik. Orientasinya masih menjadi dari kemungkinan batal puasa akibat fisik, yaitu makan & minum.
Ternyata kekhawatiran akan beratnya berB2W Ramadhan hanya perasaan saya saja. Itu harus diuji dengan pendekatan logika. Yang mana logika membutuhkan pembuktian dari kekhawatiran saya tadi. Pembuktian adalah B2W pagi ini, dan saat postingan ini saya tulis, kondisi badan sudah segar kembali. Dan siap ber W - tanpa B2 - alias kerja.
Jadi, apa yang dikhawatirkan, olah raga (B2W, salah satunya) di saat puasa bukan halangan, meski keringat hanya sedikit yang keluar.
Sorenya pulang jam 16.00 dan untungnya rada macet sehingga kecepatan tidak seberapa dan fisik tetap oke. Menjelang maghrib-pun gak ada masalah. Artinya sangat oke B2W Ramadhan. Kamis depan nyoba lagi.




