Sepeda Puasa
Ternyata banyak juga teman-teman B2W Bandung yang masih tetap bersepeda meski bulan Puasa. Ini saya baca dari B2W Chapter Bandung. Ada hal penting yang terkait antara sepeda & puasa. Pertama, sepeda itu nafsu atau keinginan, sedangkan puasa itu menahan nafsu atau keinginan. Jadi saling bertentangan secara niatan. Kedua, sepedaan itu butuh nutrisi khususnya air, sedangkan puasa itu tidak boleh ada masukan nutrisi atau air. Maka alternatif terbaik adalah bagaimana tetap puasa tapi juga tetap bisa bersepeda. Maka, waktu bersepeda saja yang dimodifikasi. Yang jelas bersepeda siang hari saat interval puasa mengandung resiko. Memang ada kontradiksi disini, mau mengutamakan puasa atau sepeda. Tapi yang jelas, karena puasa adalah wajib, maka mengutamakan puasa juga adalah kewajiban. Masalah waktu, selain itu juga ada pertimbangan lintasan atau jarak tempuh. Maka untuk edisi sepedaan saat puasa bisa dipertimbangkan hal-hal sbb. :
1.Bila puasa adalah prioritas ibadah maka sepeda sementara diparkir dulu. Pengganti olah raga bisa diupayakan saat usai buka puasa, misal, bulutangkis atau olah raga lainnya.
2.Bila merasa fisik tak ada masalah, maka tetap pertimbangkan saat berangkat & saat pulang. Saat berangkat adalah saat dimana matahari belum tinggi, atau kurang dari jam 09.00-an pagi. Saat pulang yang tepat adalah setelah maghrib atau setelah buka puasa & shalat maghrib. Kalaupun pulangnya sebelumnya dipertimbangkan sampai dirumah harus tepat saat buka puasa. Karena interval Maghrib yang hanya sebentar.
3.Bila jarak diatas 10 km sekali jalan dengan asumsi jalan datar, silahkan cek kondisi fisik terlebih dahulu. Tapi kalau kurang dari 5 km dengan asumsi jalan datar, saya pikir oke-oke saja. Yang paling enak adalah saat berangkat turunan, saat pulang nanjak tapinya sudah buka puasa, jadinya ada tenaga. Seperti, rumah di Simpang Dago, berangkat jam 07.00 pagi, kantor di Antapani, pulang jam 18.00 setelah buka bersama & shalat Maghrib. Itu yang paling enak.
4.Kalau pakai SeLi alias Sepeda Lipat, ini kayaknya yang paling tepat dipakai untuk bersepeda saat puasa. Bila fisik tak mengijinkan maka tinggal naik angkot berdua sama si seli-nya. Dengan asumsi jalurnya kelewatan angkot.
5.Atau bersepeda setengah jalan artinya hanya berangkat atau pulangnya saja. Bila ada suami istri, misal istrinya setir mobil maka suaminya yang B2W bisa berangkat bareng, suaminya pulang pakai sepeda. Karena biasanya jam masuk kantor relatif bersamaan, sekitar jam 08.00-an. Sedangkan pulangnya bisa sendiri-sendiri. Atau sebaliknya, berangkat sendiri-sendiri. Pulangnya, si istri yg setir mobil mampir ke kantor suaminya angkut sepeda B2W suaminya. Ini kayaknya trend seli & menyiasati tetap sepedaan saat puasa.
6.Antara keraguan dan penasaran, ini adalah dilema saat harus wajib puasa & godaan mengayuh si sepeda. Kalau masih ragu-ragu masih kuatkah aku naik sepeda ke kantor saat puasa, maka sebaiknya dicoba saja. Yang diatur adalah jangan memaksakan kecepatan atau mengeluarkan tenaga berlebih saat berangkat. Resiko yang perlu diantisipasi adalah kebutuhan air manakala keringat keluar. Kalau tenggorokan kering resikonya adalah dada sesak karena kurang cairan, ini harus diwaspadai. Maka, sebaiknya dikendalikan sebaik mungkin kecepatan kayuhnya.
7.Ada yang bilang biar puasa tapi aktivitas jalan terus. Ini aliran yang mungkin mempunyai kekuatan fisik yang baik. Karena di balik fisik yang memang dilatih ada juga latihan kesabaran mengendalikan diri. Fisik dikendalikan, kesabaran juga dikendalikan. Ini yang cukup berat, mudah diomongkan, terasa susah untuk diimplementasikan.
Jadi, gimana ? Ya, terserah Anda.




