yosnex

29 August 2008

Karakter Biker

Kategori Postingan : 16_my_Astroz

Setiap biker punya karakter terhadap bagaimana ia menggoseh atau bersepeda.

Ada dua aliran secara global ditinjau dari lintasannya, yaitu on-road & off-road. Atau kombinasinya, dengan perbandingan menyesuaikan. Bagaimana dengan karakter bersepada saya ? Saya lebih suka on-road 75% & off-road 25%. Pertama, yang jelas sepeda bagi saya nomer satu adalah olah raga dalam rangka mencari alternatif menjaga kebugaran yang menyenangkan. Bukan olah raga yang termurah, karena habis sepedahan pasti jatah makan melebihi batas normal. Kalau enggak percaya mana mungkin sampai ada komunitas Sepeda Kuliner di Multiply. Karakter hard-tail Astroz menjadikan lebih cocok untuk XC (cross-country), lagian saya kurang tertarik dengan bersepeda sampai berlumpur-lumpur atau berkotor-kotor. Bukan takut kotor penyakit tapi karena harus sholat 5 waktu. Jadi kalaupun berkotor-kotor harus ada jaminan bisa membersihkan diri untuk sholat, kalau yang ini bisa dicontoh biker yang sholat disela-sela istirahat bersepeda, berjama’ah lagi. Ini karakter biker sejati. Saya tahu namanya tapi tak berani sebut karena belum kenal langsung, yang pasti di blog Multiply nampak beliau sedang shalat disekitar para biker yang lagi istirahat.

Ada juga dua aliran ditinjau dari kecepatan genjotnya, yaitu aliran speed dan fun-bike. Aliran speed atau mengandalkan power dan kecepatan ini yang selama ini saya ikuti saat bersepeda bareng komunitas Lodaya. Kekuatan nanjak & kecepatan memacu alias balapan sampai di finish adalah ciri utama komunitas ini. Meski harus ada yang tertinggal jauh, tapi saat akan kembali pasti ditunggu di tempat finish. Namun karena suatu hal di tengah perjalanan berangkat masih sering berhenti-2 dengan alasan menunggu teman yang akan gabung. Nah, saat pulangnya masih adu speed juga, seperti saat ke Kiara Payung lalu. Kalau aliran fun bike selain tidak mengutamakan kecepatan, sampai saat ini saya belum pernah ikut kegiatan fun bike. Apalagi fun bike yang menghadirkan pejabat yang mana pejabat harus di paling depan supaya mudah tershoot kamera TV. Kalau yang kayak gini kalau biasa full-speed akan tersiksa. Contohnya saat ada B2W Day di Bandung, yang menghadirkan Gubernur Jabar (atau yang mewakili) bila tidak terbiasa fun bike akan tersiksa, karena gak boleh nyalip Gubernur. Nanti, kehalangan kameramen TV.

Ditinjau dari gaulnya di internet, biker bisa dibagi atas silent dan narsis. Yang silent adalah biker yang jarang menonjolkan dirinya di jagat internet, baik sebagai blog-er, milist-er, email-er, chatt-er, atau penampakan lainnya di internet. Ciri khas silent ini adalah frekuensi bersepeda lebih banyak daripada frekuaensi berinternet. Sebailknya, yang narsis adalah bersepeda cuman 3 jam tapi postingannya bisa 6 jam, cuman masih ada sisi baiknya yaitu eratnya komunitas adalah karena narsisme. Bagaimana naris tapi tetap informatif ? Sebaiknya ada perimbangan antara pose pribadi dengan pose anggota komunitas lainnya, juga ada kesebandingan antara pose pribadi dengan pose lingkungan disekitar saat sepedahan. Misal, lewat jalan mana, dekat bangunan apa, dll. Inilah yang disebut dokumentasi oleh masyarakat atau Citizen-News atau Citizen-Blog. Narsis silahkan tapi tetap proporsional. Kalau aku tidak begitu narsis alias 20% narsis karena saya jarang pose diri muncul di blog. Kalau ada foto di blog depan itu adalah informasi identitas. Ke-narsis-an saya terwakili oleh si Astroz yang identik dengan kehadiran saya. Maklum saja kalau merangkap sebagai seksi dokumentasi.

Bila ditinjau dari kebebasan menjelajah ada dua kategori yaitu follower atau perintis. Saya pernah dua-duanya. Sebagai follower atau pengikut saya aplikasikan saat bersepada ramai-ramai. Paling depan saya nomer dua setelah leader atau penunjuk arah. Setelah misalnya bisa nyalip yang pertama maka ketika ada dua arah maka saya pilih menunggu karena jangan sampai kesasar yang nanti malah merepotkan teman-teman. Sebagai perintis manakala saya mencoba trek baru, biasanya saya sendiri saja, seperti saat ke sekitaran Gedebage bulan lalu. Ada bloger di Multiply yang masuk kategori perintis karena lintasannya yang rada personal alias biker-alone. Bisa dilihat di sini. Disini juga termasuk biker yang rada susah ikut lomba-lomba sepeda yang jalurnya diatur lewat sana-sini, mereka lebih suka dimana start dimana finish, trek terserah peserta lomba. Saya juga suka model begini.

Bisa juga dibagi atas Gaya Hidup atau Tuntutan Hidup. Yang Gaya Hidup setiap touring sepedanya baru, tiap ganti medan sepeda menyesuaikan. Saat ke trek off-road pakai full-sus, trek campuran offroad-onroad pakai hardtail, saat aspal mulus (onroad) pakai road-bike langsing model sepeda balap jalan raya. Pakaian selalu berasosiasi dengan merk-merk per-sepeda-an. Ada Spesialized, Connandale, Shimano (atau Shimasyos), Polygon, dll. Tapi yang Tuntutan Hidup, sepeda pakai FBI alias Federal Buatan Indonesia jadul tahun 90-an, saat MTB booming sebelum krismon. Mereka gak peduli apa itu Deore, apa itu RST Gila, apa itu XT atau XTR, yang penting nggoseh dalam rangka bertahan hidup. Justru saya paling sering berB2W dengan mereka ini, mereka B2W sejati jauh dari narsis. Jauh dari internet, karena keterbatasan akses, tapi terus menggoseh. Jumlah mereka bisa 2 atau 3 kali lipat penggoseh B2W register di B2W web site. Harusnya di sepeda mereka terpasang tag B2W Sejati. Karena menurut mereka mau sepedahan saja harus punya email, ribet katanya.

Ditinjau dari peluang bisnis, bisa dibagi atas konsumen & produsen atau pembeli & penjual. Sampai saat ini saya masih berstatus pembeli alias konsumen, namun tidak menutup kemungkinan akan mencoba peluang bisnis di lingkup komunitas berbasis internet ini. Kalau di MBI ada penjual raket, kalau di persepedahan saya belum melihat titik terang peluang bisnis, karena faktor kekeluargaan masih dominan. Nanti mungkin lain waktu di masa datang.

Ada juga ditinjau dari implementasi gadget atau sarana pendukung persepedaan. Ada yang Gaptech ada yang Hitech. Biker ‘polosan’ adalah biker yang belum melengkapi sepedanya dengan perangkat keras berbasis informasi untuk meningkatkan kualitas eksplorasi sepedanya. Biker hitech ini menggunakan minimal cyclometer, perangkat Global Positioning System (GPS), Google Map/Earth, serta dokumentasi (kamera digital atau video camera). Ini terkait dengan kemampuan biker secara teknis dalam penguasaan teknologi informasi. Juga masih erat kaitannya dalam narsisme di internet yang pasti sangat kentara bila ada support yang jelas dari sisi gadget berbasis informasi ini.
Nanti disambung kategori lainnya.

Komentar disini »

The URI to TrackBack this entry is: http://yosnex.blogsome.com/2008/08/29/tujuan-sepedahan/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>


Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Jay of onefinejay.com