Bango Festival
Salah kaprah ketika saya cerita tentang Festival Bango adalah “Apakah makannya gratis atau lebih murah ??”, jawabannya pasti adalah bayar & harga sama dengan harga di tempat jualannya masing-masing. Bertempat di Gasibu, hajatan Bango kali ini, tak beda jauh dengan tahun sebelumnya. Memang ada beberapa stand jajanan baru, seperti singkong keju meletus. Lainnya adalah sama seperti tahun lalu. Kali ini saya membatasi mencoba yang sebelumnya belum pernah mencoba. Untuk bahan dasar Kambing saya hindari karena sudah sering makan gule & sop kambing. Hadorie & Pak Gino, sudah coba tahun lalu, paling-paling sama saja rasanya. Lagian Pak Gino sudah jualan juga di Jl. Jakarta. Yang pasti harganya naik. Batagor Riri jadi 5.000,-/buah. Konsekwensi mengunjungi stand Bango ini adalah bila enak & murah pasti antrinya lama, sebaliknya bila ‘kayaknya’ gak enak dan atau mahal, antrinya rada sepi, bahkan bisa fastfood alias cepet terbungkus. Pilih mana ? Setelah satu putaran terkunjungi, maka pilihan jatuh pada masakan seafood udang saos madu manis yang saya bawa pulang saja. Seporsi 7 ekor udang ukuran sedang-agak besar Rp. 35,000,-. Ini stand seafoodnya.

Seperti biasa, hal lumrah setelah acara kayak beginian adalah sampah. Sampah piring untungnya sudah ditempatkan di tempat sampah yang sudah tersedia. Suasana festival kali ini ada acara musik - seperti biasa - dan yang paling penting adalah tidak hujan alias cerah. Padahal sekitar Bandung Timur sebelah sananya Caheum & sekitar Siliwangi sebelumnya diguyur hujan. Bayangkan bila hujan turun di Gasibu, kayaknya semua jajanan jadi berkuah semuanya itu. Untuk anak-anak yang ditinggal bapak ibunya jajan makanan bisa disewakan permainan, supaya bapak ibunya semakin nikmat mencicipi.





