
Kalau mabar kali ini kayaknya kurang tepat dikatakan mabar alias main bareng, karena saya lebih cenderung menonton pertandingan. Tepatnya adalah nobar alias nonton bareng. Karena aku hanya main sekali, itupun kurang fit. Kayaknya pemain amatir seperti saya gak bisa dibuat terus fit selama 3x24 jam berturut-turut turun ke lapangan. Selain main yang hanya sekali, selebihnya kulakoni berbagai peran, yaitu wasit, lines-man & videografer. Selain sebagai supporter juga. Kenapa videografer, kayaknya gak ada atau tak terlihat oleh saya yang pakai perekam video. Kalaupun ada itu hal yang sangat mungkin karena mereka pakai kamera digital semua.
Apakah Anda siap kalah dalam suatu pertandingan ? Ini adalah pertanyaan klasik manakala kita melakukan tanding atau bermain dengan lawan yang bukan lawan biasa main. Apakah Anda termasuk yang berbahagia bila lawan Anda menang terhadap Anda ? “Bangkit itu susah. Susah lihat orang susah. Senang lihat orang senang”. Tanding persahabatan tidak musti menang seperti halnya pertandingan kompetisi membela klub atau negara, atau pada event dombaan. Membuat lawan senang karena menang dengan kitanya main dengan sportif, meski kita kalah, itu sudah cukup. Kalau lawan senang karena menang, meski kita kalah, kita harus ikut senang. Koq kalah ikut senang ? Itu sebagai dasar dari setiap laku tindakan kita yaitu tetap senang atau bersyukur dengan segala situasi dan kondisi. Karena membuat orang lain senang adalah suatu kesenangan. Sama-sama senang. Tentu sangat susah kalau ternyata lawan kita ‘lebih ikhlas’. Berarti kitanya kalah keikhlasannya.
Mabar kali ini diramaikan para pemain SirNas atau Sirkuit Nasional yang sebelumnya pada main di GOR KONI & GOR Lodaya. Event nasional ini merupakan pertandingan bulutangkis terbuka yang diikuti oleh banyak pemain nasional, bahkan beberapa pemain pelatnas, serta pemain senior alias mantan atlet nasional. Setelah mereka usai main di SirNas, mereka pada main di SSC ini. Jadi sekalian berlibur & jalan-jalan, karena kalau masih dalam koridor bukutangkis, main dimana aja hayuk, kayaknya. Terlihat bahwa bulutangkis selain sebagai olah raga juga sebagai ajang rekreasi serta komunikasi sosial. Sehingga mabar kali ini sangat jelas terlihat mana pemain yang latihannya terlalu banyak chatting di depan internet atau terlalu banyak latihan fisik & teknik di depan net. Sama-sama didepan net (internet & net), meski satunya pakai raket satunya pakai keyboard.
Masalah apa yang sering muncul manakala ada kegiatan yang melibatkan banyak orang seperti ini ?.
1.Berapa orang yang hadir ? Sebaiknya panitia menyiapkan buku tamu, cukup 3 lembar kertas dengan 5 kolom, yaitu kolom nama, nama di milist, nama PB/Klub, kota asal & paraf. kalau perlu ditambahkan kolom usia, raket yg dipakai & request tertentu. Apa itu request tertentu, sangat luas definisi serta artinya. Pengen dijemput atau diantar kemana, makan di mana atau mau jalan-jalan ke mana, atau beli apa, dst. Ini adalah suatu pembelajaran mana kala kita harus memberikan keterangan berapa orang yang hadir di suatu acara. Untung saja kemaren gak ada wartawan atau reporter olah raga yang hadir. Kalau wartawan nanya, berapa yang hadir dalam mabar kali ini, gimana jawabnya. Perkiraan saya yang hadir sekitar 40 - 50 an orang.
2.Susunan pemain yang akan main. Memang harus diakui bahwa pemain merangkap panitia bukan hal yang mudah. Dan bukan hal yang mudah juga bila ada pemain yang harus mau merangkap sebagai wasit, linesman, fotografer & bagian umum. Hanya fotograferlah yang sama amati sangat professional, alias jabatannya tidak merangkap. Jadi benar-benar murni sebagai seorang fotografer. Ada juga yang berperan sebagai penonton saja, meski sebelumnya juga ikutan main. Dengan segala pertimbangan. Apakah perlu seorang lagi yang bertugas sebagai sekretaris yang tugasnya menyusun acara serta menyusun daftar pemain ? Atau siapa yang bertugas mengomando “Hayo semuanya kita berfoto bersama !!!” atau “Hayo semuanya kita pulang bersama !!!!”.
Yang saya anggap menarik adalah semangat untuk datang ke lapangan, meski ada yang dari Jakarta, Tangerang, Bogor atau kota lainnya. Berapa dana serta waktu yang telah dikorbankan, benar-benar suatu militansi perbulutangkisan. Militansi sangat berperan dalam menggerakkan suatu proses baru, entah itu diarahkan ke wilayah bisnis untuk profit, ke wilayah politik praktis untuk kekuasaan atau hanya sekedar unjuk massa yang berbasis eksistensi diri. Kayaknya yang saya lihat, arahnya adalah Militansi Bulutangkis untuk eksistensi diri. Bisa dikatakan bentuk baru pola narsis dalam berolah raga. Selama ini olah raga adalah hanya untuk kebugaran, saatnya olah raga punya side-effect yang menyangkut kehidupan publik yang lebih luas. Dan lebih bermanfaat sesuai dengan tujuan organisasi MBI ini.
Yang paling menarik adalah partai terakhir antara pasangan Kang Heru vs Kang Jalu. Ini yang disebut coaching-clinic alias pembelajaran bagaimana bermain serta bertanding bulutangkis yang ‘text-book oriented’. Pukulan yang mengindikasikan serangan atau pertahanan diupayakan dengan sangat efektif dan efisien. Pertandingan yang sangat menghibur dan membuat roh bulutangkis muncul dengan liar, ganas, powerfull serta memikat. Kalau bandwidth memungkinkan akan saya upload clip pendek video antara Kang Heru vs Kang Jalu. Nanti.
Sampai ketemu di mabar mendatang.