Dosen Gratis
Sangat sering di kumandangkan jargon kampanye berupa pendidikan gratis. Pendidikan gratis adalah pendidikan yang dibiayai oleh pemerintah (atau pemerintah daerah). Dalam hal ini orang tua tidak dibebani biaya pendidikan anaknya. Tapi apakah ada sebenarnya pendidikan gratis itu ? Pendidikan gratis biaya dimungkinkan sampai pendidikan dasar atau minimal sampai SMP. Kalau untuk SMA ke atas sangat variatif pelaksanaannya. Ada pemerintah daerah yang mampu ada juga yang tidak, mengingat berbedanya kemampuan keuangan masing-masing daerah. Yang tepat adalah pendidikan gratis untuk kalangan ekonomi lemah. Kalau untuk ekonomi kuat kampanye pendidikan gratis bukan issue penting.
Kalau pendidikan gratis apakah dosen atau gurunya juga gratis ? Yang pasti dosen atau guru adalah jenis pekerjaan yang bersifat profesional. Artinya ada standart kecukupan atau kompetensi untuk menjadi seorang Dosen atau Guru. Dosen atau Guru harus dibayar, tentang jumlahnya berapa itu adalah masalah kesepakatan antara pihak sekolah dengan Dosen atau Guru yang bersangkutan. Pernahkan Anda dengar ada Perguruan Tinggi Swasta di Kota Bandung ini Dosennya mengajar tapi belum dibayar hampir telat 1 semester ? Dikatakan telat satu semester adalah bentuk halus dari kata ‘TIDAK DIBAYAR’. Tidak dibayar berarti juga adalah tidak ada kepastian kapan atau waktu untuk dibayar. Dan tidak ada pemberitahuan tanggal sekian atau tiap tanggal sekian honor dibayarkan. Padahal honornya gak seberapa besar. Kenapa koq sampai gak bisa bayar Dosen ? Kayaknya ini adalah korban jargon kampanye KULIAH GRATIS. Kuliah gratis berarti mahasiswa tidak atau sedikit mengeluarkan biaya kuliah. Dengan kata lain ada bea siswa 100%. Atau pihak kampus memberi subsidi hampir 100% dari biaya pendidikan. Terus, dari mana pemasukan keuangan pihak kampus ? Ini yang menjadi akar permasalahan. Dikarenakan ada pembayaran untuk pegawai & dosen tetap maka jatah honor Dosen Luar Biasa (bukan Dosen Tetap) menjadi nomor sekian prioritasnya alias dilupakan saja. Semula saya tidak percaya akan adanya Dosen tidak dibayar ini, tapi setelah mengumpulkan banyak fakta dan cerita, sangat jelas dan sangat mungkin hal tsb terjadi. Ketika dosen menuju tempat mengajar pasti mengeluarkan biaya, minimal ongkos untuk angkot atau bensin untuk kendaraannya. Satu dua orang dosen saja yang pakai jalan kaki karena kebetulan tempat tinggalnya dekat. Ada juga dosen yang rumahnya luar kota Bandung, tapi ada juga yang menyiasati naik sepeda angin alias digenjot saja. Ini adalah protes terhadap telatnya pembayaran honor. Biaya awal ini minimal harusnya diganti, supaya dosen tidak mengalami defisit. Saya tidak bisa membayangkan kalau ada dosen yang HANYA mengajar ditempat tsb saja. Dan tidak dibayar. Mungkin cerita ini kalau terjadi di daerah terpencil, dimana pengajar sampai gak dibayar itu bisa masuk akal. Tapi ini di kota besar, Kota Bandung. Ada pertanda apa ini ? Apakah profesi atau pekerjaan sebagai Dosen sudah mulai dilecehkan ?
Terus, apa dampak telatnya pembayaran honor dosen tadi ? Yang pasti beberapa dosen sudah malas datang untuk mengajar di tempat tsb. Mahasiswa hanya diberi bahan kuliah tertulis dan langsung ujian. Dosen yang malas mengajar sangat wajar dikarenakan tidak adanya upaya nyata tentang pembayaran honor ini. Lagian, kalau dosennya masuk terus juga kasihan kepada Bagian Keuangan, karena harus membayar lebih banyak. Kebanyakan para dosen mengajar sampai UTS saja, karena ada yang semester sebelumnya belum terbayarkan, sehingga untuk melanjutkan mengajar setelah uts menjadi malas, dan takut membebani pembayaran nantinya. Harapannya adalah bayar saja sampai uts, yang uts sampai uas, anggap aja tidak ada kegiatan kuliah. Apakah mahasiswa protes ? Sampai sejauh ini mahasiswanya baik-baik saja, kalaupun menanyakan kenapa si dosen ini tak masuk, gampang saja jawaban baaknya, mungkin ada keperluan, dsb., dsb.
Apa solusi terbaiknya ?
Dari pihak dosen, paling juga diminta kesabarannya. Hanya bisa sabar, itu saja. Menuntut atau menagih, sudah dicoba. Jawabannya adalah “belum ada” dan selalu itu jawabannya. Mau demo saya pikir kurang etis, biarlah dosen dianggap ‘korban’. Karena bisa saja pihak kampus bilang, “salah sendiri waktu ditawari ngajar saat awal semester lalu, anda bersedia”. Memang ada beberapa kampus yang mengawali kuliah dengan menjelaskan hak & kewajiban kepada dosen, tapi ada juga yang bersifat ‘kekeluargaan’ alias ‘mohon dibantu ngajar di tempat kami’. Teks ‘mohon dibantu’ memang multi tafsir. ‘Mohon Dibantu’ ada dua pengertian ditinjau dari sudut honor, diminta mengajar dengan honor atau diminta ngajar tanpa honor. Atau diminta mengajar dengan ikhlas. Ikhlas, maksudnya ikhlas tidak (tepat waktu) dibayarnya.
Dari pihak mahasiswa, saatnya membuktikan bahwa Anda harus bisa tetap belajar meski tanpa dosen hadir di kelas. Bahan kuliah sudah disiapkan sampai akhir semester. Tidak ada salahnya Anda sebagai mahasiswa mulai mandiri dalam mempelajari bahan-bahan kuliah. Ada atau tidak ada dosen, Anda tetap harus belajar. Memang tidak semua mahasiswa adalah bea siswa, mohon maaf saja kalau dosen tidak bisa hadir. Karena kita harus menghemat pengeluaran akhir-akhir ini, apalagi saat ekonomi memerlukan biaya tinggi seperti saat ini. Anda tetap harus semangat belajar. Dan selamat menyongsong UAS.
Untuk pihak kampus, baik untuk Yayasan selaku owner maupun staf dan dosen pengelola, diharapkan upaya terbaiknya untuk segera menuntaskan kewajiban pembayaran honor ini selambatnya setelah uas berakhir bulan depan. Hanya itu saja harapannya, karena beberapa dosen mengajar di situ karena beberapa dari kami telah saling kenal dan mengajar bersama-sama di beberapa pts. Hanya disitu saja masalah ini muncul, dan harapan kami semoga telatnya honor ini tidak mengurangi kekompakan yang telah dibangun selama ini. Semoga ada niatan baik untuk menuntaskan permasalahan honor ini. Karena semester depan mungkin akan menjadi semester yang berat, manakala kebiasaan menunda-nunda ini akan berakibat kurang berkenannya dosen untuk mengajar lagi di tempat tsb.
Update : 22 Mei 08, honor yang tertunda telah terbayarkan. Dengan demikian keluh kesah tentang honor telah berakhir.




