Mogok Angkot
Rabu kemarin, Angkot di Kota Bandung, hampir semua, melakukan demo dengan sejumlah tuntutan & mogok beroperasi. Siapa dan bagaimana para pengguna angkot menyiasati kejadian ini ?
1.Saya sendiri, terpaksa naik Astroz, dengan rute seperti biasa. Saat berangkat dan pulang, lewat perlintasan KA. Saat terbaik bagi Astroz-er adalah saat palang pintu KA ditutup, tapi KA masih jauh, maka kutuntun Astroz dan melintas dengan tenang. Saat itu jalanan di depan lengang dan dengan kecepatan penuh ‘menguasai’ jalanan sekitar 1 menit atau 200 meter ke depan. Saat pulang juga demikian. Jadi ‘best moment’ adalah saat pintu KA tertutup dan semua kendaraan terhenti, maka disitulah kedigjayaan Astroz-er. Bila tak ada Astroz, kondisi terburuk adalah ‘jalan-kaki’, jalan kaki adalah ‘kendaraan’ paling sederhana.
2.Orang rumah, pada pakai alternatif kendaraan. Ada yang nge-becak, nebeng motor, nge-taksi atau nebeng mobil temen. Yang pasti aktivitas keluar rumah gak boleh terganggu, gara-gara angkot mogok. Penambahan anggaran merupakan sesuatu yang sangat dimaklumi. Penambahan porsi latihan penguatan otot-kaki gara-gara harus jalan kaki adalah sesuatu yang harus dinikmati.
3.Temen kantor, selain masih bisa pakai bis kota, ternyata masih harus dikombinasikan dengan ojek. Ojek memang paling masuk akal penetrasinya mengingat fleksibilitas jalur yang bisa di tempuh. Ojek tak hanya sebatas internal-komplek perumahan seperti sebelumnya, alias antar-rumah-dalam-komplek (ARDK), tapi keluar komplek menjadi antar-komplek-dalam-kota (AKDK).
Tapi selain para pengguna angkot yang nge-dumel, ternyata banyak juga yang bersuka-cita dengan mogoknya angkot ini. Siapa mereka ?
1.Pengguna kendaraan pribadi. Motor & mobil adalah saingan terbesar pengguna jalanan bagi angkot. Ketika angkot tidak ada, maka jalanan lengang dan perjalanan sangat lancar. Kenikmatan berkendara manakala kuantitas pengguna jalan raya berkurang dari posisi terpadat pada suatu waktu tertentu. Salah satunya adalah saat angkot ‘berhenti’ jalan.
2.Jasa angkutan alternatif. Ojek adalah yang paling ‘marema’ alias panen. Lalu, angkutan Taksi juga meningkat pendapatannya. Kendaraan lain seperti kereta-kuda atau delman, nampaknya tidak terlalu siginifikan peran sertanya.
Bagaimana dengan sopir angkot yang mogok angkot ? Mogok angkot tidak identik dengan mogok kerja alias tidak berpenghasilan. Perkiraan publik selama ini apabila angkot mogok maka sopir angkot juga mogok kerja. Itu tidak semua benar. Karena ada beberapa sopir angkot yang ‘alih-profesi’ menjadi peng-ojek. Dengan memanfaatkan peluang baik ini, sopir-ngojek ini menempatkan dirinya pada dual-advantage alias dua keuntungan yang diperoleh, yaitu solidaritas sesama sopir angkot untuk mogok dan penghasilan tetap ada, bahkan ‘marema’ juga. Ngangkot sejam paling dapat 15.000-an, tapi ngojek dapat dua orang bisa 20.000-an. Sebuah ide yang patut dijadikan bahan kajian, ternyata sopir angkot juga punya strategi dual-advantage alias keuntungan-ganda. Kalau seperti ini, maka sopir angkot bisa saja rutin dan terjadwal melakukan mogok, dengan ‘pasang-iklan’ di PR seperti Selasa kemarin itu. Dengan pemasangan informasi di PR sehari sebelumnya, maka warga sudah antisipasi, minimal cari alternatif angkutan & penambahan anggaran. Ternyata sopir angkot yang merangkap pengojek ini menjadi ‘point’ penting strategi kaum marjinal yang selama ini kurang diperhitungkan.




