Perubahan #03
Hidup di kota besar seperti Bandung, dimanjakan dengan banyak pilihan berkendara. Mulai dari penyediaan jalur jalan utama sampai pada jalan-2 komplek ataupun jalan2 sempit di tengah2 gang. Mulai dari berkendara pribadi ataupun angkutan umum. Ada dua kategori besar manakala kita akan menuju suatu lokasi tertentu. Dalam hal ini saya menggunakan asumsi bahwa jarak yang akan saya tempuh dalam rutinitas harian adalah sekitar 7 km. Jarak sekitar 7 km tadi adalah jarak antara rumah tinggal dengan tempat kerja, suatu rutinitas. Kebetulan saya tidak berpindah-pindah tempat beraktivitas terlalu jauh dari lingkaran area 7 km tadi.
Maka ada beberapa moda transportasi yang saya pilih, yaitu Kendaraan Pribadi atau Angkutan Umum.
Yang pertama, Kendaraan Pribadi. Kendaraan Pribadi adalah kendaraan atau tanpa kendaraan yang dijalankan tanpa ada ketergantungan dengan pihak lain. Posisi pengguna merangkap driver atau pengendali kendaraan. Kadang kendaraan kita kendarai, kadang kita mengurusi kendaraan tadi, bila mogok atau rusak. Pilihannya meliputi kendaraan bermotor dan non-bermotor. Yang bermotor, saya bisa pilih sepeda motor matic atau sejenis Mio, Spin, dsb. Kalau yang roda empat, mimpi kaleee. Yang bukan bermotor saya bisa pilih sepeda angin alias sepeda onthel atau kayuh mandiri. Pilihannya adalah model MTB atau sepeda sport. Ada tiga point penting disini, yaitu kayuhan tidak bikin capek, waktu tidak terlalu lambat, biaya bisa ditekan. Pilihan lainnya adalah Beatrix alias sepeda listrik, dual mode. Bisa listrik tanpa kayuh atau pure sepeda kayuh. Kelemahannya pada harga kelewat mahal & desain yang ‘centil’ kurang sporty, gak cocok buat Bapak-2, pantesnya Ibu-2 ke warung depan komplek. Atau triseda, motor roda tiga yang biasa buat ngirim Aqua galon di komplek perumahan. Atau jalan kaki sejauh 7 km. Jalan kaki membutuhkan syarat yaitu gak boleh bawa beban berat. Alias tanpa laptop di punggung, kalau ada beban berat nampaknya harus kerja keras dalam adaptasi. Di perlukan style adaptasi menuju perubahan moda angkutan ini.
Yang kedua, Angkutan Umum. Yang jelas pakai ongkos, selama ongkos masih mempunyai kesebandingan dengan efisiensi anggaran, tentu masih bisa dianggap layak. Tapi kalau ngojek 10,000,- tiap hari, itu adalah pemerasan. Perlawanan atas biaya membengkak harus di mulai dari keinginan kuat untuk beradaptasi terhadap berbagai pilihan moda yang ada, tentu dengan yang lebih hemat & layak ditinjau dari sisi anggaran. Kalau nebeng atau ngikut gratis, atau kesepakatan dengan pengendara lain. Ini bisa di coba. Di Jakarta, sampai ada komunitas Nebeng terkait dengan Three-In-One, punya web site lagi. Misal, saya mencari rekan yang sejalur dengan saya, saya pelanggan tetap dibonceng dengan kompensasi saya menanggung 40% biaya BBM. Yang pasti win-win solution alias saling melengkapi. Ini yang harus di coba untuk dikembangkan. Kalau langganan angkot atau ojek ? Dengan diskon tertentu, kayaknya juga perlu dicoba.
Kata kunci perubahan dalam pilihan moda angkutan ini adalah adaptasi terhadap seluruh pilihan angkutan yang ada. Dari yang paling berat, jalan kaki sampai yang harus beli dengan harga mahal. Tapi ada satu yang juga paling penting menurut saya pribadi, yaitu Berkendara Harus Unik. Yang orang lain belum pakai. Yang unik ada tiga, yaitu Sepeda Sport, Beatrix & Triseda. Lainnya orang-orang disini sudah pada pakai. Sebisa mungkin mencoba hal-hal baru yang belum dilakukan oleh orang lain.




