Perubahan #01
Banyak perubahan yang harus dilakukan seiring waktu. Beberapa tahun ngeblog saya maksudkan salah satunya adalah mengamati perubahan-perubahan yang saya alami. Kita diajarkan untuk mempunyai sikap bahwa hari ini harus lebih baik dari pada hari kemarin, dan hari esok harus lebih baik dari pada hari ini. Ini adalah hal yang mudah diomongkan tapi tidak semudah itu dilaksanakan. Banyak masalah yang saya lihat sebagai keharusan untuk berubah. Bisa saya daftarkan sbb. :
1.Perubahan karena kehadiran laptop, keberadaan internet, dan implikasinya.
2.Perubahan pola makan karena resiko kesehatan & mal-fungsi
3.Perubahan atas transportasi harian saya
4.Perubahan atas tempat tinggal & adaptasinya
5.Perubahan atas seragam batik tiap Jumat
6.Perubahan atas kebiasaan bangun pagi
7.Perubahan atas kamera A400 ke L730
8.Perubahan atas rusaknya perangkat keras saya
9.Perubahan atas kebiasaan merawat barang yang sebelumnya belum ada menjadi kewajiban merawat, dll.
Kita soroti satu masalah dulu, yaitu keberadaan laptop. Kita soroti dengan gaya SWOT sederhana. Apa keuntungan laptop ? Yang jelas membantu visualisasi penjelasan saya, yang selama ini memaksa mahasiswa untuk membayangkan saja, maka dengan laptop visualisasinya semakin jelas. Yang susah adalah resikonya, yaitu laptop itu berat. Berat laptop memang mempunyai masalah, yaitu pegel-pegel, tapi ada manfaatnya yaitu latihan beban, siapa tahu saat badminton punya andil dalam meningkatkan stamina. Punya laptop berarti punya storage atau ruang penyimpan file yang besar. Ini juga dualisme, karena hardisknya besar, maka kita bernafsu mengisi dengan berbagai file. Resikonya adalah kemungkinan tercemar virus, dan pemilihan file yang ternyata memakan waktu yang cukup menyibukkan. Kalau orang-orang yang punya laptop dengan hardisk 80 GB apakah mereka juga banyak atau 3/4 penuh hardisknya ? Atau malah kosong, cuman MS Office saja. File banyak juga memungkinkan kita susah menemukan file yang kita cari, dengan fasilitas serching terbantu, tapi tetap dengan sabar bila isi hardisk cukup besar. Punya laptop juga ada resiko terserang virus, maka update adalah suatu keharusan agar anti virus selalu terbaharui dan mampu menangkal virus-2 perusak. Perubahan yang saya uji coba saat ini adalah bisa enggak saya ngajar atau ngantor atau beraktifitas tanpa laptop ? Ini adalah suatu pertanyaan yang harus kujawab, dan aku harus bisa. Karena siapa tahu, nanti saya akan kehilangan laptop, baik kehilangan sebagain atau seluruhnya. Kehilangan sebagian bila file-file saya tiba-tiba menghilang atau rusak sehingga daya manfaatnya hilang. Atau, hilang seluruhnya. Kenapa bisa hilang, ada dua kemungkinan, yaitu hilang dengan sengaja, misal di jual dengan segala alasan. Atau hilang akibat keteledoran saya sehingga diambil orang. Perubahan atas manfaat laptop juga harus dianalisa perbandingan dengan perubahan bila saat kita gak punya laptop. Atau saat pakai Celeron, dengan keberkahan rezeki - misalnya - maka berganti wujud jadi Core 2 Duo, itu juga punya riwayat perubahan yang harus dicermati.
Punya laptop ternyata membatasi gerak saya. Saya menjadi tidak pernah ke supermarket atau pameran komputer, dikarenakan mereka mewajibkan menitipkan tas bawaan, sedangkan saya selalu beralasan membawa laptop. Dan laptop termasuk barang berharga, seperti halnya dompet atau ponsel. Saya beralasan, kalau laptopnya ’saja’ bisa beli lagi (entah tahun depan atau kapan) alias sekitar 5 jutaan, tapi kalau datanya juga hilang, maka 5 juta itu bisa lebih. Intinya laptop yang sudah berisi data & informasi, bisa 2x lipat harga laptop kosong, meski rada sedikit subyektif personal. Laptop juga punya resiko rusak saat dipakai oleh pemakai lain, tentu saja selain anak istriku. Kekhawatiran akan resiko selalu saya ingat terus, ketika Anda meminjamkan barang Anda, siaplah untuk kehilangan benda tsb. Ini saya bisa tegas dengan melarang peminjam yang gak perlu untuk meminjam dengan alasan bahwa laptop adalah barang pribadi. Sama dengan ponsel, kartu kredit, celana dalam, dll. Dalam setiap penggunaan oleh orang lain, terkadang saya ingin melihat peminjamnya ‘tiba-tiba’ menjadi enggak bisa menggunakan dan error. Tapi dengan error yang sementara, sehingga membuat peminjam tadi berpikir ulang untuk meminjam kembali. “Khan kemarin pinjem laptopnya error, koq sekarang malah pinjem lagi ?”, atau “Khan kemaren bingung pakai touch-pad-nya ?”, atau peminjamnya ngeluh, “Koq, pakai OpenOffice, sih ? Kenapa gak pakai MS Office aja ?”. Pengennya sih pakai OSnya Knopix, Fedora atau sejenisnya. Cuman sayanya yang gak tahu cara memulai dan mengisi ulang semuanya sejak awal. Pekerjaan paling males adalah install ulang OS. Kesimpulannya, apakah laptop bermanfaat ? Meski tanpa laptop saya harus tetap bisa membuat prestasi. Laptop adalah pendukung, sayalah sang subyek sesungguhnya. Ini adalah perubahan yang saya maksudkan. Bersiap untuk segala kemungkinan terhadap apa saja yang bsia menimpa laptop saya. Tapi tetap dengan doa, semoga diberi kekuatan untuk memaksimalkan laptop, baik untuk pribadi, keluarga, mahasiswa, teman-teman serta lainnya. Sebar luasan Ayat-Ayat Cinta adalah satu peran laptop saya yang saya anggap punya prestasi positip. Tinggal melengkapi apa saja yang bisa saya kerjakan agar laptop ini punyai ‘bintang jasa’ nantinya saat sudah berumur senja. Kata kunci untuk perubahan terkait laptop, adalah perbaharui terus aplikasi, ikhlaskan bila error, bahkan kalaupun harus kehilangan laptop. Laptop bukan segala-galanya. Karena tanpa laptop kemaren-2 juga masih bisa ‘hidup’.




