Jonas Photo

Bagi warga Bandung keberadaan Jonas Photo sudah bukan informasi baru lagi. Tempat itu melayani segala kebutuhan fotografi. Kebetulan saat ke sana saya tertarik dengan larangan menggunakan kamera di dalam ruangan. Maksud yang saya tangkap adalah dilarang memotret dagangan atau pelayanan Jonas Photo. Padahal di dalam ruangan toko banyak sekali hal menarik yang bisa diambil atau ditiru untuk dipelajari. Semisal, pajangan foto ukuran besar di bingkai dengan rapi dipasang di atas sehingga terlihat saat kita lewat. Masak mau menunjukkan hal-hal menarik seperti pajangan frame besar itu gak bisa ? Padahal kalau ditunjukkan ke teman yang kebetulan belum pernah ke situ, maka ada kemungkinan tertarik untuk memiliki, karena bisnis foto grafi adalah bisnis pandangan pertama. Artinya, ‘tampilan akhir’ atau ‘finishing touch’ adalah faktor penting saat memutuskan untuk membeli atau memiliki suatu hasil fotografi. Kalau tidak boleh menggunakan kamera sesuai larangan di bawah ini, lalu bagaimana mungkin larangan itu efektif. Yang ke Jonas bisa dianggap 75% bawa kamera, tapi mereka gak boleh pakai kameranya. Kalau video kamera kayaknya boleh karena simbol di larangan bentuk simbolnya untuk kamera. Kalau larangan lainnya, seperti minuman kaleng, makan es krim, makan cake/tart dan merokok, saya sangat terima dan maklum. Tapi larangan memotret adalah kontra-informasi alias sudah tak sesuai dengan bisnis potret-memotret yang selama ini merupakan bisnis inti dari Jonas Photo. Padahal kru Jonas Photo di dalam sana juga memotret. Jadi untuk siapa sebenarnya larangan memotret ini ? Kayaknya Jonas Photo takut kesaingan sama pesaing serius (bisnis sejenis) atau pesaing iseng (fotografer pemula atau yg iseng). Tapi ketika saya ambil gambar larangan tsb, satpamnya cuek-cuek saja. Karena saya paling seneng memotret tulisan yang melarang memotret.

Kemudian tentang harga cetak photo per lembar, distruk tertulis dua harga. Harga asli dikurangi diskon, dan kayaknya diskon ini berubah-ubah sesuai perubahan waktu. Dan sifatnya prerogratif alias terserah Jonas Photo, terkait dengan jumlah cetak atau discount card, atau lainnya. Bagi yang mau cetak silahkan dicermati struk ini khususnya nilai diskonnya. Apakah selalu diskonnya segitu kalau perlu diamati selalu, karena kalau cetak dalam jumlah besar akan sangat berpengaruh. Kalau di toko lain berapa harga cetak 3R per lembarnya ? Mahal atau murahkah di Jonas Photo ? Khususnya untuk layanan yang umum (juga ada di toko lain), semisal cetak foto 3R. Ada informasi ? Di tunggu komentarnya.





hahahah….
bagus om!
by : iiiaa.duduLz
Comment by iiiaa — 7 January 2008 @ 11:45 am
motong gaji karyawan saja suka suka, main pecat karyawan bisa suka suka, main tuduh karyawan maling aja bisa suka suka, apalagi cuma motong diskon, tidak halal nyetak foto di jonas, terlalu banyak mantan karyawan yang di dzolimi
Comment by agus kopet — 21 September 2008 @ 2:51 am
ia, jonas photo dari luar memang bagus,
dalamnya ancur deh.
pecat memecat orang udah biasa di jonas, cari pegawai baru itu kerjaan HRD tiap harinya, soalnya tiap hari ada yang dipecat,
masalahnya gampang, yang kerja di jonas ingin jadi karyawan seperti di perusahaan lain.
tapi bagi pemilik karyawan adalah BUDAK, artinya mereka bisa dipekerjakan dengan seenaknya namanya juga BUDAK,
masalah gaji itu hak kami sebagai pemilik, kami bisa mengaturnya sesuka hati kami, kalo tidak mau yah keluar ajah gampangkan ?
kalo mereka mau jadi karyawan harus bisa menjilad.
Kerja di jonas bukan keahlian yang dicari tapi siapa yang jago jilad menjilad itulah yang MENANG.
besok2 JONAS gulung tikar koq, itu yang diharapkan dari eks karyawan yang sudah difitnah.
Comment by awis-mia-cocoy-agus — 21 October 2008 @ 13:47 pm
ia, jonas photo dari luar memang bagus,
dalamnya ancur deh.
pecat memecat orang udah biasa di jonas, cari pegawai baru itu kerjaan HRD tiap harinya, soalnya tiap hari ada yang dipecat,
masalahnya gampang, yang kerja di jonas ingin jadi karyawan seperti di perusahaan lain.
tapi bagi pemilik karyawan adalah BUDAK, artinya mereka bisa dipekerjakan dengan seenaknya namanya juga BUDAK,
masalah gaji itu hak kami sebagai pemilik, kami bisa mengaturnya sesuka hati kami, kalo tidak mau yah keluar ajah gampangkan ?
kalo mereka mau jadi karyawan harus bisa menjilad.
Kerja di jonas bukan keahlian yang dicari tapi siapa yang jago jilad menjilad itulah yang MENANG.
besok2 JONAS gulung tikar koq, itu yang diharapkan dari eks karyawan yang sudah difitnah.
Comment by awis-mia-cocoy-agus — 21 October 2008 @ 13:48 pm
wahhh…yg namanya jonas si bner2 keterlaluan, gaji murah dengan jam krja gila2an (sampe ada yg 12 jam BO, bahkan ada satu hari mreka DIHARUSKAN secara berkala perminggu untuk krja 10 JAM, praturan Jonas doang tu, giliran hari liburnya suka disuru dateng buat rapatlah, traininglah yg waktunya ampir sama dengan jam kerja. GILA GA TUHH???), gampang pecat karyawan, gampang nuduh maling, selain itu di jonas tu diberlakukan hukuman seperti anak kecil k karyawannya, tanpa mempertimbangkan intelktual karyawannya sendiri. Contohnya : kalo ada komplain dari customer yg bikin Jonas ampe masuk koran, tu karyawan2nya bisa2 di setrap kaya anak kecil duduk dibawah alias di lantai sewaktu pulang kerja. dan itu bisa berkisar 1 ampe 2 jam, GILA GA TUH!!! Jonas memperlakukan karyawan2nya yg pasti ada juga yg berlatar pendidikan S1, D3, D1, ato SMU sprti BUDAK belian. gimana coba kalo ada yg lagi sakit trus ampe2 tambah parah ato bahkan meninggal gara2 duduk di lante malem2 gitu???TOLONG DONK BUAT ORG2 DI DEPNAKER JGN CUMA BERPANGKU TANGAN AJA, PERHATIIN KESJAHTERAAN KARYAWAN, KHUSUSNYA DI JONAS.
Comment by Josua — 6 November 2008 @ 6:04 am
wahhh…yg namanya jonas si bner2 keterlaluan, gaji murah dengan jam krja gila2an (sampe ada yg 12 jam BO, bahkan ada satu hari mreka DIHARUSKAN secara berkala perminggu untuk krja 10 JAM, praturan Jonas doang tu, giliran hari liburnya suka disuru dateng buat rapatlah, traininglah yg waktunya ampir sama dengan jam kerja. GILA GA TUHH???), gampang pecat karyawan, gampang nuduh maling, selain itu di jonas tu diberlakukan hukuman seperti anak kecil k karyawannya, tanpa mempertimbangkan intelktual karyawannya sendiri. Contohnya : kalo ada komplain dari customer yg bikin Jonas ampe masuk koran, tu karyawan2nya bisa2 di setrap kaya anak kecil duduk dibawah alias di lantai sewaktu pulang kerja. dan itu bisa berkisar 1 ampe 2 jam, GILA GA TUH!!! Jonas memperlakukan karyawan2nya yg pasti ada juga yg berlatar pendidikan S1, D3, D1, ato SMU sprti BUDAK belian. gimana coba kalo ada yg lagi sakit trus ampe2 tambah parah ato bahkan meninggal gara2 duduk di lante malem2 gitu???TOLONG DONK BUAT ORG2 DI DEPNAKER JGN CUMA BERPANGKU TANGAN AJA, PERHATIIN KESJAHTERAAN KARYAWAN, KHUSUSNYA DI JONAS.
Comment by Josua — 6 November 2008 @ 6:07 am
ah sekarang mah BUDAK udah nggak ada di Jonas, kita mah udah berubah, semakin baik ! adanya BUDAK disetrap makin lama, ada yang di jemur, ada yang di rendem dalam bak air dingin, ada yang dibugilin, apalagi kalo dibugilin, awis paling seneng ngawasin, apalagi yang dibugilin cantik2.
Comment by awis-mia — 15 May 2009 @ 23:43 pm