Taman Safari 06
Kali ini saya menyoroti masalah pentingnya dokumentasi digital bila mengunjungi suatu lokasi wisata. Lokasi wisata merupakan tempat yang tepat untuk menguji kesiapan kita sebagai dokumentator digital. Dokumentasi digital disini saya batasi dengan 2 (dua) macam saja, yaitu photo (atau still-picture) dan video (atau movie-picture). Pertanyaan yang paling mendasar adalah di sana nanti di lokasi mana saja yang akan di ambil foto & videonya. Artinya sebelum berkunjung ke lokasi kita harus sudah punya gambaran keberadaan lokasi yang dikategorikan lokasi yang menarik untuk di foto/video. Karena berkunjung ke Taman Safari, tentu saja ada dua obyek penting, yaitu satwa dan latar belakang lokasi satwa tersebut. Maka seminggu sebelumnya sudah harus dipersiapkan koleksi foto atau video di sekitar lokasi tersebut, tentu saja diambil dari internet. Karena saat ke Taman Safari sebelumnya, saya belum ada dokumentasi yang baik. Yang pasti setelah dokumentasi lama dikumpulkan, dipelajari serta dipahami, maka akan mempermudah kita nantinya saat mendokumentasi-kan dilokasi kunjungan kita nanti.
Ternyata masih belum cukup dengan membawa 2 kamera digital, karena ada dua kendala yang mengganggu, yang selama di lokasi mempengaruhi kemampuan dokumentasi saya. Kamera lama, Samsung A400, kamera 4 MP dengan maksimal memori SD 512 MB, ternyata hanya mau kompromi sampai 256 MB saja. Alias saat dipakai dengan memori SD 512 MB tidak lancar openingnya. Padahal baterai cadangan sangat cukup untuk Samsung A400 ini. Ternyata kendalanya pada kamera digitalnya, bukan memori atau baterainya. Solusinya adalah menyiapkan memori SD maksimal 256 MB. Berarti, masalah Samsung A400 sudah beres. Kamera baru adalah Samsung L730 7 MP tapi yang kugunakan hanya 5 MP dengan pertimbangan penghematan kapasitas memori. Masalah yang muncul adalah kapasitas baterai yang terbatas dan tidak punya baterai cadangan. Karena banyak dipakai di perjalanan sebelum TSI, maka saat di lokasi TSI keburu habis baterainya. Untung ada fasilitas charge listrik di lokasi TSI, tepatnya di bagian Informasi, dekat atraksi gajah, dengan membayar Rp. 25,000,- sampai full-charge. Solusi L730 adalah harus ada baterai cadangan, atau ada mobile-charging di sepanjang perjalanan. Bisa juga sebenarnya charge pakai laptop karena chargenya pakai USB, cuman belum dicoba. Dan tentu saja bawa laptop lebih merepotkan.
Antara A400 vs L730 tentu saja tidak sebanding bila harus dicompare, tapi yang pasti A400 adalah cadangan untuk L730. Kemampuan teknis, kecepatan pengambilan gambar, ukuran LCD, dan lainnya, pasti lebih unggul L730. Cuman, A400 menang di baterai saja.
Jadi apa solusi akhir serta rekomendasi dokumentasi digital untuk kunjungan wisata berikutunya ?
1.Siapkan SD 256 MB untuk Samsung A400.
2.Siapkan baterai cadangan Lithium-tipis untuk Samsung L730, sekitar Rp. 175,000,-/sebuah.
3.Alternatif penyediaan Video Camera dengan minimal 1 Megapiksel (jangan 800K, kagok), support HD, boleh miniDV atau miniDVD atau hardisk, support eksternal memori SD, 30x zoom optical, support Wide-Screen, still picture minimal 4 MP, baterai tahan lama dan harga terjangkau.
Semoga kunjungan wisata berikutnya, munculnya kendala dokumentasi digital ini tidak berulang lagi, kalau punya duit cukup sudah pasti kendala diatas terselesaikan. Jadi ini adalah semata-mata keterbatasan anggaran, bukan kurang antisipasi secara teknis.
Atau menunggu kamera digital tanpa baterai ?


























