Ramadhan #03
Belajar ikhlas adalah salah satu hikmah puasa. Kita belajar ikhlas sejak bangun sahur hingga tidur lagi. Di saat akan bangun sahur, adalah latihan ikhlas yang paling berat. Keberadaan nikmatnya tidur terpaksa harus diakhiri karena harus makan sahur. Supaya lebih ikhlas hendaknya kita jangan memaksakan tidur terlalu larut supaya tidak terlalu sulit untuk bangun sahur. Memasang alarm sangat disarankan. Kalau kita sahur tinggal bangun lalu makan, penghargaan serta penghormatan patut kita berikan kepada mereka yang bangun lebih dini dari kita. Biasanya orang sahur bangun jam 03.00, tapi bagi penyedia makan sahur, warung yang menyediakan makanan sahur, pembangun sahur yang keliling lingkungan rumah kita, pengisi acara tv acara sahur, dll., mereka bangun bisa jadi jam 02.00 paling lambat.
Saat makan sahur, belajar ikhlaspun dilanjutkan. Saat kantuk selera makan juga terpengaruh. Apapun makanan yang disiapkan kita jangan pernah mengomentari dengan negatip, karena kita tidak terlibat dalam penyiapan hidangan tadi. Masakan tidak enak, terlalu asin, kurang garam, bahkan mungkin kita kehabisan. Kalau kehabisan, kita tetap diminta untuk sabar & ikhlas. Dikecualikan bila kita membeli disuatu tempat, semisal warung atau rumah makan. Bila kondisi kita kurang sehat, semisal ada gangguan kesehatan atau sedang sakit, ini adalah tambahan ujian keikhlasan kita. Setelah makan sahur, berikutnya adalah menunggu sampai shalat Subuh datang. Masih ngantuk ? Bisa jadi. Kita harus ikhlas menunggu Subuh. Setelah shalat Subuh, ada yang tidur lagi ada yang tetap terjaga. Saat akan bangun untuk berangkat kerja, kita juga belajar ikhlas untuk segera bangun dan segera berangkat. Macet di jalan, suasana gak nyaman di jalan, dan suasana lain yang mengganggu, juga latihan ikhlas berikutnya. Di tempat kerja, bila ada suasana kerja yang ‘memang keras’ maka itu juga latihan ikhlas juga. Ada banyak tantangan di tempat kerja, antara keinginan meningkatkan produktivitas atau minimal mempertahankan produktivitas versus keberadaan sisa tenaga sejak makan sahur tadi. Mungkin, saya termasuk yang beruntung bekerja di dunia pendidikan, yang tidak terlalu keras tantangannya, sehingga ber-ibadah puasapun terasa normal-2 saja, bila dibandingkan dengan teman-2 saya yang harus berangkat setelah Subuh dari Bogor ke Jakarta, belum nanti pulangnya. Sebuah rutinitas yang harus dijalani, semoga diberikan keikhlasan dalam menjalaninya. Saat adzan maghrib tiba, ujian keikhlasan juga masih jalan terus. Makanan pembatal puasa harus kita nikmati dengan sejuta syukur dan terima kasih, sekali lagi, saya kebagian langsung makan. Perhargaan bagi mereka yang bertugas menyiapkan sejak jam 17.00 beradu dengan padat & macetnya jalanan, serta deadline harus tiba sebelum adzan maghrib. Semoga bila mereka ikhlas akan menjadi pahala. Keikhlasan juga manakala kemarin saat menulis blog dapat 15-an baris tiba-tiba gak bisa disave, sehingga isi blog batal tayang. Tapi, kuikhlaskan, siapa tahu mendatang ada bahan tulisan yang lebih baik lagi. Banyak harapan bisa terpanjatkan bila diawali dengan keikhlasan hati dalam menerima segala keadaan. Semoga kita semua diberikan keikhlasan dalam menjalankan ibadah puasa ini. Amien.




