yosnex

19 September 2007

Ramadhan #02

Kategori Postingan : 14_senggang

Bulan puasa mengubah perilaku keseharian, khususnya rutinitas fisik. Saya tidak membicarakan aktifitas ibadah karena itu sangat personal dan sangat subyektif. Semisal, jam kerja kantor, jumlah definitif 1 sks sekian menit, jam bangun-jam berangkat-jam pulang-jam tidur. Ada yang langsung beradaptasi atau ada pula yang sulit beradaptasi. Kemampuan beradaptasi dari rasa ngantuk bisa dilihat dari kebiasaan kita mengatur irama tidur kita. Ada yang membiasakan habis shalat Subuh tidur dulu, atau ada yg tidurnya di perjalanana (bawa sopir atau sopir bareng-bareng, kayak angkot, bis atau kereta api). Ngantuk di tempat kerja di kala bulan puasa dimaklumi dalam kontek ibadah, atau baik sangka. Berarti dia kurang tidur karena bangun lebih dini dari sahur. Membiasakan berbaik sangka dengan mengapresiasikan secara obyektif-eksploratif-konfirmatif membuat kita semakin berhati-hati dalam sembarang melontarkan pendapat yang sering terbalut dengan prasangka negatip. Prasangka negatip lahir dari kurangnya data, atau ada data tapi lebih mempercayakan intuisi atau kebiasaan. Malah ada yang menggunakan feeling atau naluri. Secara obyektif-eksploratif-konfirmatif bisa diartikan sebagai berikut. Obyektif, artinya kebiasaan mengantuk atau terkantuk-kantuk saat kerja sangat bergantung dari obyek orang-per-orang. Tidak bisa disamaratakan bahwa kalau bulan puasa kebanyakan oarang akan mudah kantuk di siang hari. Ada yang biasa kantuk di bulan lain, tapi saat bulan puasa tidak kantuk, atau sebaliknya. Karena proses adaptasi per orang sangat beragam terhadap irama kantuknya ini. Jadi, kalau ada yang kantuk di siang hari, apa pendapat kita ? Kalau saya, mungkin dia kurang tidur ! Dan tetap harus berbaik sangka. Eksploratif, terkait dengan kemampuan kita mengumpulkan informasi sebanyak mungkin perihal kantuknya tadi itu. Dengan bertanya langsung dan dengan niat supaya tidak salah sangka, maka tentu si Kantuk tadi akan berbagi informasi mengapa dia kantuk di siang hari. Konsumen atau orang kebanyakan akan senang bila diperhatikan, dan ditanya adalah salah satu bentuk perhatian. Sekali lagi, informasi yang benar harus datang dari orang yang bersangkutan, bukan kata si Dia atau kata Temannya. Konfirmatif, adalah memastikan penyebab si Kantuk tadi. Tentu saja setelah kita terima banyak data tentang kantuknya Dia. Memastikan penyebab bisa dengan car sederhana, yaitu mencoba menguji hipotesa kita tentang penyebab kantuk dengan menganalisa data dari si Kantuk dan memastikan apa penyebab kantuknya Dia. Hipotesa jangan dulu disampaikan ke orang lain terkait kantuknya Dia, karena akan rawan apabila konsentrasi prasangka negatip lebih dominan. Tapi kalau hipotesa dibungkus dengan prasangka positip-baiksangka sepertinya masih bisa dikemukakan. Misal, dia kantuk karena ibadah puasa. Itu saya pikir lebih menyejukkan.
Intinya, kita belajar berbaik sangka, khususnya kepada orang yang sering terkantuk-kantuk di kantor. Karena siapa tahu, kita sendiri-lah sebenarnya Si Kantuk tadi.

1 Comment »

The URI to TrackBack this entry is: http://yosnex.blogsome.com/2007/09/19/ramadhan-02/trackback/

  1. makasih pak atas tulisannya
    saya tadi malu banget ditegur ngantuk saat rapat
    bahkan paginya saya kendarai motor sambil ngantuk2 sampe2 diklakson mobil
    saya tak kurang tidur tapi mungkin slah tidur hingga gak sempurna
    sudah shalat shubuh tadi saya ingin tidur lagi tapi tak bisa harus segera ngantar anak
    trims
    sugeng

    Comment by sugeng p — 19 August 2008 @ 8:18 am

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>


Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Jay of onefinejay.com