Pilih Laptop #5
Pilih laptop ada yang mendasarkan pada merk global atau lokalnya. Termasuk didalamnya dukungan informasi, support (dokumentasi), driver update, jaminan purna jual, spare part dan garansi global (bisa di servis di beberapa kota di Indonesia & Dunia). Kalau merk lokal apakah selalu lebih baik atau lebih murah dibandingkan produk global ? Harga & kualitas tidak semudah itu dibandingkan. Sangat sulit memberi penilaian atas pembandingan laptop yang mana komponen per bagian sangat beragam. Belum lagi saat komponen2 tadi menyatu menjadi sebuah sistem laptop terpadu. Benchmark pada laptop bisa dibandingkan atas perbndingan per komponen, semisal antara CeleronM vs Sempron M, atau Pentium M vs Turion 64. Atau Core2 Duo vs Turion 64 X2. Atau benchmark menyeluruh atau over-all per laptop. Misal diabndingkan laptop merk X dengan merk Y. Ini juga susah melakukan komparasi, karena keragaman masing-2 komponen penyusunnya.
Kalau susah melakukan komparasi performance per laptop, akhirnya yang digagas adalah bagaimana menerapkan batasan minimal spesifikasi dengan anggaran yang tersedia. Atau yang lebih praktis langsung saja berbasis anggaran, spesifikasi mengikuti. Tapi tetap dengan pertimbangan teknis yang menyertainya. Murah boleh tapi tetap harus lengkap atau spesifikasi minimal terpenuhi. Masih bingung ? Sama, aku juga masih bingung.
Atau mau coba konsep baru (2006) dalam teknologi komponen penyusun laptop yang disebut dengan CBB (Common Building Block). Salah satu merk lokal yang mendukungnya adalah merk lokal BYON. Yang se-saudara dengan laptop merk Asus. BYON juga merupakan manufaktur pertama di Indonesia yang menerapkan konsep standardisasi Common Building Block (CBB) yang diverifikasi oleh Intel. CBB didasari dengan 7 komponen yang menjadi standard yaitu LCD, keyboard, baterai, power adapter, optical drive, hard disk dan CNP (Customizable Notebook Panel). CBB merupakan konsep yang dikembangkan Intel dengan menstandardisasi komponen-komponen notebook. Jika sebuah notebook mengikuti standar CBB maka dapat diperbarui (upgrade) tanpa melalui vendor semula sebab banyak produsen yang membuat komponen kompatibel. Konsep yang mirip dengan CBB telah digunakan di segmen komputer desktop, sehingga pengguna dapat memodifikasi komputernya dengan mudah. Standar ini diklaim dapat menghemat biaya produksi yang ditanggung vendor maupun biaya pemeliharaan dan penggantian komponen yang ditanggung pengguna. Standardisasi komponen akan menjadi tren teknologi informasi masa datang karena sangat berpihak kepada pengguna. Hingga saat ini, katanya, notebook yang beredar di pasar Indonesia menganut konsep proprietary yang membuat pengguna sangat tergantung pada satu produsen. Dia mencontohkan baterai yang punya masa pakai relatif terbatas namun tiap tipe notebook proprietary memiliki bentuk tersendiri dengan colokan pasok daya yang juga berlainan.
Berikut pengalaman pemakai CBB :
“Kalau mau yang open standard. Saat ini beli merk nasional yang paling aman. A-Note, Axioo, Zyrex, ByON. Karena kalau adaptor rusak bisa beli dari salah satu vendor itu. Baterei rusak sama juga, memory juga. Kalau Toshiba, adaptor rusak. Harus cari ke Toshiba lagi dan dijamin mahal harganya, karena bukan standard. Baterei juga harus ke Toshiba, dst. Di kantor kita pakai merk-merk nasional sudah bisa tukar-tukaran memory, harddisk, adaptor.”
Semoga makin murah itu laptop. Jadi kapan belinya, nunggu nanti murah atau kapan lagi ?
Berikut link terkait CBB :
1.http://corfina.com
2.http://www.suarasurabaya.net. Ada Tukul disini
3.http://www.e-samarinda.com/forum
4.http://www.sinarharapan.co.id
5.Kritik atas CBB BYON http://jimmyauw.com
6.Web resmi BYON di Astrindo-nya Asus.




