Format UTS
Menurut saya, format UTS yang masuk akal adalah UTS terjadwal di kelas selama 2 jam dengan sifat Open Book. Ini yang saya sebut format standart, artinya ada proses ujian yang bersifat waktu terbatas dan bisa diukur sampai sejauh mana kemampuan mahasiswa mengerjakan selama rentang waktu tersebut. Kalau Take Home Test, kayaknya tidak bisa dibedakan dengan TUGAS, sama-sama dalam rentang waktu 7 x 24 jam, rentang waktu yang tidak bisa dikendalikan. Kalau UTS minta Take Home Test, kayaknya kurang greget, dan malah nambah kesibukan. Nampaknya dosen siap dengan format UTS di kelas 2 jam open book.
MK Ekonomi Manajerial, malah enggak jelas batasan tugasnya. Diminta meringkas, tanpa kejelasan minimal & maksimal halaman, spasi baris, anggota kelompok, dan buku yang akan diringkas. Dosen juga nampaknya lebih senang, karena enggak usah bikin soal UTS, tapi menjadi tidak jelas sejauh mana evaluasi yang bisa dilakukan.
MK MSDM, juga. Semula mau UTS open book, akhirnya ikut-ikutan Take Home Test, pakai kelompokan segala.
MK Man Pemasaran, kayaknya juga gitu, tapi ini perorangan.
Kayaknya kita (mahasiswa) khawatir mendapatkan nilai jelek, tapi itu enggak apa-apa, toh nantinya akan dibahas juga. Saya pribadi juga siap, mau dapat bagus atau jelek, itu relatif. Sejauh pemberi nilai tadi bisa memberikan solusi jawaban yang lebih baik. Kita harus terima.
Terus terang, UTS 2 jam di kelas open book LEBIH MERINGANKAN PIKIRAN (selesai UTS kita bisa bersantai) daripada UTS take home test yang bisa MENJADI PIKIRAN selama 7 x 24 jam. Sorry, teman-teman, kita beda pendapat.





Kalau MMnya yang dimana ? Setahu saya IMMI adanya di Jakarta Selatan. Kalau di Jaksel aku dulunya juga alumni th 2003. Salam kenal bagi rekan-rekan MM IMMI yang tersebar di Indonesia (?)
Comment by bambang eko — 8 March 2006 @ 22:46 pm